Jumat, 18 Mei 2012

The_HalaQah











DIABETES MELITUS


LAPORAN PENDAHULUAN
 DIABETES MELITUS


I.                   LANDASAN TEORI MEDIS
A.     PENGERTIAN (MEDIS)

Diabetes mellitus adalah penyakit kronis yang kompleks yang mengakibatkan gangguan metabolisme karbohidrat, protein, lemak dan berkembang menjadi komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologis. (Barbara C. Long)

Diabetes mellitus adalah suatu penyakit kronis yang menimbulkan gangguan multi sistem dan mempunyai karakteristik hyperglikemia yang disebabkan defisiensi insulin atau kerja insulin yang tidak adekuat. (Brunner dan Sudart)

Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol (WHO).

Diabetes mellitus adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang akibat peningkatan kadar glukosa darah yang disebabkan oleh kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Suyono, 2002).

B.     ETIOLOGI
Diabetes tipe I :
a.       Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.
b.      Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
c.       Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.


Diabetes Tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
Faktor-faktor resiko :
a.       Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)
b.      Obesitas
c.       Riwayat keluarga
Etiologi dari diabetes mellitus tipe II sampai saat ini masih belum diketahui dengan pasti dari studi-studi eksperimental dan klinis kita mengetahui bahwa diabetes mellitus adalah merupakan suatu sindrom yang menyebabkan kelainan yang berbeda-beda dengan lebih satu penyebab yang mendasarinya.

Menurut banyak ahli beberapa faktor yang sering dianggap penyebab yaitu :

1.     Faktor genetic

Riwayat keluarga dengan diabetes :
Pincus dan White berpendapat perbandingan keluarga yang menderita diabetes mellitus dengan kesehatan keluarga sehat, ternyata angka kesakitan keluarga yang menderita diabetes mellitus mencapai 8, 33 % dan 5, 33 % bila dibandingkan dengan keluarga sehat yang memperlihatkan angka hanya 1, 96 %.

2.     Faktor non genetic

a.      Infeksi
Virus dianggap sebagai “trigger” pada mereka yang sudah mempunyai predisposisi genetic terhadap diabetes mellitus.

b.     Nutrisi
1.     Obesitas dianggap menyebabkan resistensi terhadap insulin.
2.     Malnutrisi protein
3.     Alkohol, dianggap menambah resiko terjadinya pankreatitis.

c.      Stres
Stres berupa pembedahan, infark miokard, luka bakar dan emosi biasanya menyebabkan hyperglikemia sementara.

d.     Hormonal Sindrom cushing karena konsentrasi hidrokortison dalam darah tinggi, akromegali karena jumlah somatotropin meninggi, feokromositoma karena konsentrasi glukagon dalam darah tinggi, feokromositoma karena kadar katekolamin meningkat




C.     KLASIFIKASI

Berdasarkan klasifikasi dari WHO (1985) dibagi beberapa type yaitu :

1.      Diabetes mellitus type insulin, Tipe I

Insulin Dependen diabetes mellitus (IDDM) yang dahulu dikenal dengan nama Juvenil Onset diabetes (JOD), klien tergantung pada pemberian insulin untuk mencegah terjadinya ketoasidosis dan mempertahankan hidup. Biasanya pada anak-anak atau usia muda dapat disebabkan karena keturunan.

2.      Diabetes mellitus type II,

Non Insulin Dependen diabetes mellitus (NIDDM), yang dahulu dikenal dengan nama Maturity Onset diabetes (MOD) terbagi dua yaitu :
a.       Non obesitas
b.      Obesitas

Disebabkan karena kurangnya produksi insulin dari sel beta pankreas, tetapi biasanya resistensi aksi insulin pada jaringan perifer.
Biasanya terjadi pada orang tua (umur lebih 40 tahun) atau anak dengan obesitas.

3.      Diabetes mellitus type lain

a.       Diabetes oleh beberapa sebab seperti kelainan pankreas, kelainan hormonal, diabetes karena obat/zat kimia, kelainan reseptor insulin, kelainan genetik dan lain-lain.
b.      Obat-obat yang dapat menyebabkan huperglikemia antara lain :
Furasemid, thyasida diuretic glukortikoid, dilanting dan asam hidotinik
c.       diabetes Gestasional (diabetes kehamilan) intoleransi glukosa selama kehamilan, tidak dikelompokkan kedalam NIDDM pada pertengahan kehamilan meningkat sekresi hormon pertumbuhan dan hormon chorionik somatomamotropin (HCS). Hormon ini meningkat untuk mensuplai asam amino dan glukosa ke fetus.

D.     PATOFISIOLOGI

Sebagian besar patologi diabetes mellitus dapat dikaitkan dengan satu dari tiga efek utama kekurangan insulin sebagai berikut :
1.  Pengurangan penggunaan glukosa oleh sel-sel tubuh, dengan akibat peningkatan konsentrasi glukosa darah setinggi 300 sampai 1200 mg/hari/100 ml.
2.  Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah-daerah penyimpanan lemak, menyebabkan kelainan metabolisme lemak maupun pengendapan lipid pada dinding vaskuler yang mengakibatkan aterosklerosis.
3) Pengurangan protein dalam jaringan tubuh.



Akan tetapi selain itu terjadi beberapa masalah patofisiologi pada diabetes mellitus yang tidak mudah tampak yaitu kehilangan ke dalam urine klien diabetes mellitus. Bila jumlah glukosa yang masuk tubulus ginjal dan filtrasi glomerulus meningkat kira-kira diatas 225 mg.menit glukosa dalam jumlah bermakna mulai dibuang ke dalam urine. Jika jumlah filtrasi glomerulus yang terbentuk tiap menit tetap, maka luapan glukosa terjadi bila kadar glukosa meningkat melebihi 180 mg%.

Asidosis pada diabetes, pergeseran dari metabolisme karbohidrat ke metabolisme telah dibicarakan. Bila tubuh menggantungkan hampir semua energinya pada lemak, kadar asam aseto – asetat dan asam Bihidroksibutirat dalam cairan tubuh dapat meningkat dari 1 Meq/Liter sampai setinggi 10 Meq/Liter.


E.     MANIFESTASI KLINIS

Gejala yang lazim terjadi, pada diabetes mellitus sebagai berikut :
Pada tahap awal sering ditemukan :

a)     Poliuri (banyak kencing)
Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing.
b)     Polidipsi (banyak minum)
Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri, sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum.
c)     Polipagi (banyak makan)
Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar). Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi walaupun klien banyak makan, tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah.
d)     Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang.
Hal ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh berusama mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein, karena tubuh terus merasakan lapar, maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan DM walaupun banyak makan akan tetap kurus
e)     Mata kabur
Hal ini disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) yang disebabkan karena insufisiensi insulin. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa, sehingga menyebabkan pembentukan katarak.






F.      KOMPLIKASI

1.     Akut

1.) Hypoglikemia
2.) Ketoasidosis
3.) Diabetik

2.     Kronik
1.) Makroangiopati, mengenai pembuluh darah besar, pembuluh darah jantung pembuluh  darah tepi, pembuluh darah otak.
2.) Mikroangiopati mengenai pembuluh darah kecil retinopati diabetik, nefropati diabetic.
3.) Neuropati diabetic.

G.    PEMERIKSAAN PENUNJANG

1.      Glukosa darah sewaktu
2.      Kadar glukosa darah puasa
3.      Tes toleransi glukosa
Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl).
Kadar glukosa darah sewaktu

v  Plasma vena :

<100>
100 - 200 = belum pasti DM
>200 = DM
v  Darah kapiler :

<80>
80 - 100 = belum pasti DM
> 200 = DM
v  Kadar glukosa darah puasa

Plasma vena :
<110>
110 - 120 = belum pasti DM
> 120 = DM
v  Darah kapiler :

<90>
90 - 110 = belum pasti DM
> 110 = DM

Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan :
1.      Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
2.      Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
3.      Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl).




H.    PENATALAKSANAAN

Tujuan utama penatalaksanaan klien dengan diabetes mellitus adalah untuk mengatur glukosa darah dan mencegah timbulnya komplikasi acut dan kronik. Jika klien berhasil mengatasi diabetes yang dideritanya, ia akan terhindar dari hyperglikemia atau hypoglikemia. Penatalaksanaan diabetes tergantung pada ketepatan interaksi dari tiga faktor aktifitas fisik, diet dan intervensi farmakologi dengan preparat hyperglikemik oral dan insulin.
Pada penderita dengan diabetes mellitus harus rantang gula dan makanan yang manis untuk selamanya. Tiga hal penting yang harus diperhatikan pada penderita diabetes mellitus adalah tiga J (jumlah, jadwal dan jenis makanan) yaitu :
J I : jumlah kalori sesuai dengan resep dokter harus dihabiskan.
J 2 : jadwal makanan harus diikuti sesuai dengan jam makan terdaftar.
J 3 : jenis makanan harus diperhatikan (pantangan gula dan makanan manis).

Diet pada penderitae diabetes mellitus dapat dibagi atas beberapa bagian antara lain:
1.      Diet A : terdiri dari makanan yang mengandung karbohidrat 50 %, lemak 30 %, protein 20 %.
2.      Diet B : terdiri dari karbohidrat 68 %, lemak 20 %, protein 12 %.
3.      Diet B1 : terdiri dari karbohidrat 60 %, lemak 20 %, protein 20 %.
4.      Diet B1 dan B2 diberikan untuk nefropati diabetik dengan gangguan faal ginjal.
Indikasi diet A :
Diberikan pada semua penderita diabetes mellitus pada umumnya.
Indikasi diet B :
Diberikan pada penderita diabetes terutama yang :
1.      Kurang tahan lapan dengan dietnya.
2.      Mempunyai hyperkolestonemia.
3.      Mempunyai penyulit mikroangiopati misalnya pernah mengalami cerobrovaskuler acident (cva) penyakit jantung koroner.
4.      Mempunyai penyulit mikroangiopati misalnya terdapat retinopati diabetik tetapi belum ada nefropati yang nyata.
5.      Telah menderita diabetes dari 15 tahun



II.                LANDASAN TEORI KEPERAWATAN/ASUHAN KEPERAWATAN

A.     Pengkajian

1.      Aktivitas dan Istirahat

Gejala :
·         Lemah,letih sulit bergerak atau berjalan
·         Kram otot, tonus otot menurun, gangguan tidur dan istirahat
Tanda :
·         Takikardia dan takipneu pada keadaan istirahat atau dengan aktivitas
·         Latergi atau disorientasi, koma
Penurunan kekuatan otot

2.      Sirkulasi

Gejala :
·         Adanya riwayat hipertensi; IM akut
·         Klaudikasi, kebas dan ksemutan pada ekstremitas
·         Ulkus pada kaki, penyembuhan yang lama
Tanda :
·         Takhikardi
·         Prubahan tekanan Darah Postural; hipertensi
·         Nadi yang menurun atau tak ada
·         Disritmia
·         Krekels
·         Kulit panas, kering dan kemerahan; bola mata cekung
                                                                
3.      Integritas Ego

Gejala:
·         Stres;tergantung pada orang lain
·         Masalah financial yang berhubungan dengan kondisi
Tanda :
                                   ·          Ansietas; peka rangsangan

4.      Eliminasi

Gejala :
·         Perubahan pola berkemih (poli uria), nokturia
·         Rasa nyeri atau terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), ISK baru/berulang
·         Nyeri tekan abdomen
·         Diare
Tanda :
·         Urine encer, pucat, kuning;poliuri
·         Urine berkabut, bau busuk
·         Abdomen keras, adanya acites
·         Bising usus lemah dan menurun;hiperaktif(diare)

5.      Makanan /Cairan

Gejala :
·         Hilang nafsu makan
·         Mual atau muntah
·         Haus
·         Penggunaan diuretic



Tanda :
·         Kulit kering/ bersisik, turgor jelek
·         Kekakuan/distensi abdomen, muntah
·         Pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhan metabolic dengan peningkatan gula darah)
Bau halitosis/manis, bau buah(nafas aseton)

6.      Neurosensori

Gejala :
·         Pusing/pening
·         Sakit kepala
·         Kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia
·         Gangauan penglihatan
Tanda :
·         Disorientasi; mengantuk, latergi, stupor/koma(tahap lanjut). Gangguan memori; kacau mental
·         Reflex tendon dalam(RTD) menurun (koma)
Aktivitas kejang (tahap lanjut dari DKA)

7.      Nyeri/Kenyamanan

Gejala :
·         Abdomen yang tegang/nyeri(sedang/berat)

Tanda :
Wajah meringis dengan palpitasi; tampak sangat berhati-hati

8.      Pernapasan

Gejala:
·         Merasa kekurangan oksigen,batuk dengan/ tanpa sputum purulen (tergantung adanya infeksi atau tidak

Tanda :
·         Lapar udara
·         Batuk, dengan atau tanpa sputum purylen
·         Frekuensi perna

9.      Keamanan

Gejala :

·         Kulit kering, gatal;ulkus kulit

Tanda :
·         Demam,diaphoresis
·         Kulit rusak, lesi/ulserasi
·         Menurunnya kekuatan umum/ rentang gerak
·         Parestesia/paralisis otot termasuk otot-otot pernafasan jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam)
B.     Diagnosa dan rencana asuhan keperawatan

1.      Nyeri (akut/kronik) b/d terputusnya kontinuitas jaringan
Intervensi
Rasional
1.      Kaji skala nyeri dengan menggunakan skala (0-10)
2.      Jaga kestenlisasian selama perawatan luka
3.      Ajarkan teknik relaksasi
4.      Rawat luka tiap hari
5.      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian insulin



1.      Skala nyeri menentukan tingkat kenyamanan serta rencana tindakan selanjutnya
2.      Teknik septic-aseptik mencegah terjadinya infeksi yang berlanjutan
3.      Teknik relaksasi diindikasikan untuk mengurangi rasa nyeri
4.      Mempercepat proses penyembuhan
5.      Membantu dalam menstabilkan gula darah pasien.

2.      Perubahan volume cairan b/d dierasis osmotic, kehilangan gastric berlebihan (diare,  muntah) masukan dibatasi (mual).
No.
Interveransi
Rasional
1



2.


3.


4.



5.
Dapatkan riwayat penyakit b/d lamanya / intensitas, pengeluaran urine yang sangat berlebihan.

Pantauan TTV


Pola napas seperti adanya pernapasan kumaul / pernapasan yang berbau katon.

Ukur BB setiap hari



Catat hala-hal seperti mual, nyeri, abdomen, muntah dan distensi lambung.
Membantu dalam memperkirakan kekurangan volume total.


Hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardi

Paru-paru mengeluarkan asam karbonat yang menghasilkan kompensasi alkalosis respiratonk.

Memberikan hasil pengkapan yang terbuat dari status cairan yang sedang berlangsung dan selanjutnya dalam cairan pengganti.

Kekurangan cairan dan elektrolit mengubah motalitas lambung yang sering kali akan menimbulkan muntah dan secara potensial akan menimbulkan kekurangan cairan.


3.      Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidak cukupan insulin, penurunan masukan oral, status hipermetabolisme.
No.
Interverensi
Rasional
1.

2.


3.




4.

Timbang BB setiap hari

Tentukan program diet dan pola makan pasien

Berikan makanan cair yang mengandung zat makanan dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah dapat mentoleransi melalui pemberian cairan

Libatkan keluarga pasien pada perencanaan makana ini sesuai dengan indikasi.

Mengkaji pemasukan makanan yang adekuat.

Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpangan dari kebutuhan taraupetik.

Pemberian cairan melalui oral lebih baik jika pasien sadar dan fungsi gastroantastinal baik



Meningkatkan rasa ketelibatan memberikan informasi kepeda keluarga untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien.



4.      Kelebihan b/d penurunan produksi energy metabolic, perubahan kimia darah, peningkatan kebutuhan energy.
No.
Interverensi
Rasional
1.



2.


Diskusikan dengan pasien kebutuhan akan aktivitas


Berikan aktivitas alternative dengan periode istirahat yang cukup

Tingkat partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan yang dapat di toleransi
Pendidikan dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan tingkat aktivitas meskipun pasien mungkin sangat lemah.

Mencegah kelelahan yang berlebihan.


Meningkatkan kepercayaan diri / harga diri yang positif sesuai tingkat aktivitas yang dapat di toleransi pasien.

5.      Kurang pengetahuan tentang penyakit b/d kurangnya informasi
No.
Interverensi
Rasional
1.



2.



3.



4.



Bekerja dengan pasien dalam menata tujuan belajar yang diharapkan


Diskusikan tentang rencana diet, penggunaan makanan tinggi serat dan cara untuk mengkomsumsi makanan diluar rumah.

Tekankan pentingnya mempertahankan pemeriksaan gula darah setiap hari.


Diskusikan factor-faktor yang memegang peranan penting dalam control DM tersebut seperti latihan, stress, pembedahan dan penyakit tertentu.
Partisipasi dalam perencanaan meningkatkan antusias dan kerja sama pasien dengan prinsip-prinsip yang di pelajari.

Kesadaran tentang pentingnya control diet akan membantu pasien dalam merencanakan waktu.


Membantu dalam menciptakan gambaran nyata dari keadaan pasien untuk melakukan control penyakit dengan lebih kuat.

Informasi ini akan meningkatkan pengendalian terhadap DM dan dapat menurunkan berulangnya kejadian kotoasidosis.






























ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. I. N
DENGAN GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN “DM”
PADA RUANGAN CENDERAWASIH DI RSUD
HAULUSSY AMBON

A.     Identitas pasien
Nama                                       : Tn. I. N
Umur                                       : 49 tahun
Jenis kelamin                           : Laki-laki
Pekerjaan                                 : PNS
Pendidikan                               : SMA
Agama                                     : Kristen Protestan
Alamat                                                 : Negeri Lama
Tgl masuk RS/ jam                   : 06-10-2010 jam 16:00 WIT
Tgl pengkajian                         : 07-10-2010 jam 08:30 WIT
DX Medis                                : Diabetes Mellitus
Nama penanggung jawab         : ny. K. N
Hubungan dengan klien           : Istri
Umur                                       : 45 tahun
Pekerjaan                                 : Ibu rumah tangga
Alamat                                     : Negeri Lama.

B.     Riwayat kesehatan sekarang
1.      Keluhan utama masuk RS                          : Luka pada kedua tungkai
2.      Keluhan yang menyertai                            : nyeri pada daerah luka, lemas
3.      Keluhan utama pada saat pengkajian         : Nyeri pada daerah luka
P  : Kena air panas
Q : Seperti tertusuk-tusuk
R : Daerah luka menyebar ke lutut
S : Sedang (4)
T : Hilang timbul

4.      Keluhan yang menyertai                            : lemas, perut kembung, belum BAB selama 3
  Hari.




            Catatan Kronologis
Pada akhir bulan September  waktu pasien jalan pagi, setelah tiba di rumah pasien merasa kram pada kedua kaki seperti terbakar api. Pasien belum pernah meraskan hal yang sama sebelum selama ia jalan pagi , dengan kondisi kaki yang demikian pasien dan keluarga menganggap bahwa itu adalah kekuatan gaib, sehingga keluarga pasien memanggil dukun kampong untuk berobat. Namun dengan air biasa yang digunakan oleh dukun kampung ketika pasien mencoba menaruh kedua tangan air masih dalam keadaan dingin, setelah bergantiaan dengan air hangat yang dicelupkan kedua kaki, malah membuat kedua kaki pasien luka. Pasien sudah mendapat pengobatan dari tim kas (mantri) selama satu minggu, namun KU pasien makin lemas sehingga keluarga mengambil keputusan untuk dibawa ke RSUD Haulussy Ambon, tiba di UGD pada pukul 16:00 WIT dan mendapat therapy :
Ø  Nacl 0,9% 20 tt/m
Ø  Cefo 2 X 1 gr/IV
Ø  Metrodinasol 3 X 0,5 gr/drips
Ø  Neurosanbe 1 am
Ø  Inje ranitidine 2 X 1 / IV

C.     Riwayat kesehatan masa lalu
1.      Riwayat tumbuh kembang             : Normal
2.      BB yang  sesuai dengan usia          : 57 kg/ 160 cm
3.      Gangguan psikologis                      : Tidak
4.      Hospitalisasi                                  : Pasien pernah dirawat di RS 1X dengan penyakit yang
  sama, pada bulan februari 2010

2.  Keluarga yang mempunyai penyakit yang sama : Nenek pasien
3.  Penyakit yang diderita keluarga :
ü Gangguan pertumbuhan                                   : Tidak ada
ü Obesitas                                                           : Tidak
ü Kelainan hiroid                                                            : Tidak
ü Pasien bertanya-tanya tentang penyakitnya     : Ya
4. Latihan / olahraga
- Jenis latihan / olahraga                : Jalan pagi
- Frekuensi                                     : 3X / minggu
- Keluhan                                       : tidak ada

D.     Pemeriksaan Fisik
1.      Pemeriksaan umum
-          Kesadaran        : Compos mentis
-          KU                   : Lemah
-          BB / TB                       : 57 / 160
-          TD : 150 / 90 mmHg, N : 86 x / m, S : 37 c, R : 22 x /m
2.      Wajah
-          Abnormalitas struktur  : Tidak
-          Ekspresi wajah             : Tampak Meringis
3.      Mata
-          Bola mata                                : Normal
-          Kelopak mata                          : Normal
-          Pupil                                        : Normal
-          Sclera                                       : Normal
-          Konjungtiva                             : Normal
-          Ketajaman penglihatan                        : Normal
4.      Hidung
-          Struktur                                    : Normal
-          Pernapasan cuping hidung       : Tadak
-          Penciuman                               : Baik
5.      Telinga
-          Struktur                                    : Norml
-          Fungsi Pendengaran                 : Baik
6.      Mulut

-          Kebersihan mulut                    : Bersih
-          Bau                                          : Tidak
-          Fungsi bicara                           : Baik
-          Menelan                                   : Baik
7.      Leher
-          Vena jugularis                          : Tidak ada peningkatan
-          Pembesaran Kel tiroid              : Tidak
8.      Dada
-          Bentuk                                                 : Simetris
-          Gerakan Dada                          : Mengikuti irama pernapasan
-          Bulu dada/ketiak                      : Ada
9.      Abdomen
-          Bentuk                                                 : Simetris
-          Hipertimpani                            : Ya
-          Kembung                                 : ya
10.  Ektermitas
-          Ekstermitas atas                       :  Terpasang Nacl 12 tt/m
-          Ektermitas bawah                    :  Luka pada ke dua telapak kaki
-          Komentar                                 : Pasien mengatakan lemas
 
E.      Pola aktivitas sehari-hari

Pola Aktivitas
Sebelum sakit
Sesudah sakit
1.      Makan
a.       Frekuensi makan
b.      Jenis makanan
c.       Jumlah porsi makan
d.      Keluhan saat makan
2.      Minum
a.       Frekuensi minum
b.      Jenis minuman
c.       Jumlah minum
d.      Keluhan saat minum
3.      Eliminasi
a.       BAB
-          Fekuensi BAB
-          Konsistensi
-          Warna
-          Keluhan saat BAB
b.      BAK
-          Frekuensi BAK
-          Bau
-          Warna
-          Keluhan saat BAK
4.      Personal HYegine
-          Frekuensi mandi
-          Sikat gigi

3x / hr
Nasi, ikan, sayur
1 porsi
Tidak

3-4x / hr / gelas
Air putih
6-7 gls/ hr
Tidak ada


1 – 2 x / hr
Lembek
Kuning
Tidak ada

1 -2 x / hr
Pesing
Kuning
Tidak ada

3 x / hr
3 x / hr

3 x / hr
Bubur, sayur
1 porsi
Tidak ada

1-2 x / hr / gelas
Air putih
1-2 gls / hr /
Tidak ada


Belum BAB selama 3 hari




1 -3 x / hr
pesing
Kuning
Tidak ada

1 x / hr
3 x / hr

F.      Pemeriksaan penunjang
-          Darah
1.      Lenco        : 13.200
2.      BB             : 165 – 168
3.      Tromb        : 175.000
4.      Bul T/D/I   : 0,4/0,2/0,2
5.      SOGT / PT : 16 / 19
6.      Ureum       : 47
7.      Creat          : 4,0
8.      Cholest      : 155
9.      GDP           : 361
10.  HB             : 12,7 gr/dl
11.  USG           : Acites


KLASIFIKASI DATA
DS : Pasien mengatakan
·         Nyeri pada daerah luka
·         Nyeri seperti tertusuk-tusuk
·         Nyeri menyebar sampai ke lutut
·         Skala nyeri  sedang (4)
·         Nyeri hilang timbul
·         Perut kembung
·         Pasien pernah mengalami penyakit yang sama
·         Ada keluarga yang mengalami penyakit DM
·         Belum BAB selama 3 hari
·         Lemas

DO :
·         KU Lemah
·         Ekspresi wajah tampak meringis
·         TD : 150 / 90 mmHg
·         Pasien bertanya-tanya tentang penyakitnya
·         Hipertimpani
·         USG hasilnya acites
·         Luka pada kedua telapak kaki
·         Terpasang IVFD Nacl 12 tts/m
·         Aktivitas dibantu oleh keluarga dan perawat
·         Leuco :13.200
·         SGOT/PT : 16/19 ul
·         Ureum : 47 mg/dl
·         Creat : 4,0
·         GDP  : 361


ANALISA DATA
Data
Etiologi
Masalah
DS : Pasien mengatakan
-          Nyeri pada daerah Luka
-          Nyeri seperti tertusuk-tusuk
-          Nyeri menyebar samapai ke lutut
-          Skala nyeri sedang (4)
-          Nyeri hilang timbul

DO :
-          KU Lemah
-          Ekspresi wajah tampak meringis
-          Luka pada kedua telapak kaki
-          TD : 150/90 UL
-          Leuco : 13.200
-          SGOT/PT : 16/19 UL
-          Ureum : 47 mg/dl
-          Creat : 4,0
-          GDP : 361

Luka pada kedua kaki
Nyeri Akut

Data
Etiologi
Masalah
DS : Pasien mengatakan
-          Perut kembung
-          Belum BAB selama 3 hari
DO :
-          KU Lemah
-          Hipertimpani
-          Hasil USG acites

DS : Pasien mengatakan
-          Lemas
DO :
-          KU Lemah
-          Terpasang IVFD Nacl 12 H/m
-          Aktivitas dibantu oleh perawat dan keluarga











DS : Pasien mengatakan
-          Pernah mengalami penyakit yang sama
-          Ada keluarga yang mengalami penyakit DM
DO :
-           Pasien bertanya-tanya tentang penyakitnya
Hipoperistalik usus







Kelemahan Fisik

















Kurang informasi tentang penyakit
Gangguan eliminasi bowel






Intoleransi aktivitas

















Kurang pengetahuan


PRIORITAS MASALAH


1.      Nyeri akut b/d Terputusnya kontinustas jaringan
2.      Gangguan eliminasi bowel b/d hipoperistaltik usus
3.      Intoleransi aktivitas b/d kelemahan fisik
4.      Kurang pengetahuan tentang penyakit b/d kurang informasi tentang penyakit




 
NO
Diagnosa  Keperawatan

Tujuan
Interverensi
Rasional
1.




Nyeri b/d terputusnya kontinuitas  jaringan yang ditandai dengan
DS: Pasien mengatakan
-       Nyeri pada luka
-       Nyeri seperti tertusuk-tusuk
-       Nyeri menyebar sampai kelutut
-       Skala nyeri sedang (4)
-       Nyeri hilang timbul
DO :
-      KU Lemah
-      Ekspresi wajah tampak meringis
-      Luka pada kedua telapak kaki
-      TD 140/90 mmHg
-      N 82 x/m
-      S 37 C
-      R 22 x/m
-      Leuco 13.200
-      SGOT/PT 16/19 UL
-      Ureum 47 mg/dl
-      Creat 4,0
-      GDP 361



Selama dilakukan tindakan keperawatan dalam 1 x 6 jam diharapkan nyeri dapat teratasi dengan criteria:
1.     KU baik
2.     Nyeri berkurang
3.     Skala nyeri 3
1.      Kaji skala nyeri dengan menggunakan skala (0-10)
2.      Jaga kestenlisasian selama perawatan luka
3.      Ajarkan teknnik relaksasi
4.      Rawat luka tiap hari
5.      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian insulin
1.      Skala nyeri menentukan tingkat kenyamanan serta rencana tindakan selanjutnya
2.      Teknik septic-aseptik mencegah terjadinya infeksi yang berlanjutan
3.      Dapat diindikasikan untuk mengurangi nyeri
4.      Mempercepat proses penyembuhan
5.      Membantu dalam menstabilkan gula darah pasien.



N
O
Diagnosa keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
2.
Gangguan eliminasi bowel b/d hipoperistaltik usus ditandai dengan :
DS : Pasien mengatakan
-            Perut kembung
-            Belum BAB selama 3 hari
DO :
-          KU Lemah
-          Hipertumpani
-          Hasil USG acites
Selama dilakukan tindakan keperawatan dalam 1 x 6 jam diharapkan gangguan eliminasi bowel dapat teratasi dengan criteria :
-       Perut tidak kembung
-       Dapat BAB dengan normal

1.      Anjurkan pada pasien agar makan dan minuman dalam keadaan hangat
2.      Anjurkan pada pasien agar tetap mengikuti program diet
3.      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat sesuai indikasi
1.      Makan/ minum yang dalam keadaan hangat dapat menstimulasi kerja usus yang lebih aktif sehingga proses eliminasi dapat berjalan normal
2.      Diet sesuai indikasi dapat membantu dalam proses penstabilan glukosa dalam darah
3.      Pemberian obat sesuai indikasi dapat membantu dalam proses untuk melancarkan BAB.


No
Diagnosa  Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
3.
Intoleransi aktivitas b/d kelemahan fisik di tandai dengan :
DS : Pasien mengatakan
-       Lemas
DO :
-            KU Lemas
-            Terpasang IVFD Nacl 12 tt/m
-            Aktivitas dibantu oleh perawat dan keluarga
Selama dilakukan tindakan keperawatan selam a  1 x 6 jam diharapkan pasien dapat beraktivitas secara mandiri dengan criteria :
-       KU Baik
-       Aktivitas dilakukan secara mandiri
1.      Kaji KU pasien
2.      Bantu pasien dalam beraktivitas mis: BAB, BAK.
3.      Anjurkan kepada pasien untuk badrest
4.      Beri kesempatan pada pasien untuk melakukan aktivitas secara mandiri
1.      KU pasien menentukan kemampuan dalam beraktivitas serta rencana tindakan selanjutnya.
2.      Memimaksasi penggunaan energy dalam beraktivitas
3.      Badrest / istirahat dapat meningkatkan energy serta mengembalikan keadaan umum pasien
4.      Kesempatan bagi pasien dalam melatih kemampuan dalam beraktivitas





No
Diagnosa Keperawatan

Tujuan
Intervensi
Rasional
4.
Kurang pengetahuan b/d kurang informasi tentang penyakit, ditandai dengan.
DS : Pasien mengatakan
-            Pernah mengalami penyakit yang sama
-            Ada keluarga yang mengalami penyakit DM
DO :
-            Pasien bertanya-tanya tentang penyakitnya

Selama dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 6 jam diharapkan pasien dapat mengetahui penyebab serta dapat mencegah timbulnya penyakit berulang
1.    Bekerja dengan pasien dalam menata tujuan belajar yang diharapkan


2.    Diskusikan tentang rencana diet, penggunaan makanan tinggi serat dan cara untuk mengkomsumsi makanan diluar rumah.

3.    Tekankan pentingnya mempertahankan pemeriksaan gula darah setiap hari.


4.    Diskusikan factor-faktor yang memegang peranan penting dalam control DM tersebut seperti latihan, stress, pembedahan dan penyakit tertentu.
1.      Partisipasi dalam perencanaan meningkatkan antusias dan kerja sama pasien dengan prinsip-prinsip yang di pelajari.

2.      Kesadaran tentang pentingnya control diet akan membantu pasien dalam merencanakan waktu.


3.      Membantu dalam menciptakan gambaran nyata dari keadaan pasien untuk melakukan control penyakit dengan lebih kuat.

4.      Informasi ini akan meningkatkan pengendalian terhadap DM dan dapat menurunkan berulangnya kejadian kotoasidosis.





 
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
Nama             : Tn.I.N
Umur             : 49 Tahun
Jenis Kelamin:perempuan
DX medis: DM
Ruang: Cendrawasih
No.Reg:039528

NO
IMPLEMENTASI
EVALUASI
2
Hari/Tanggal : 07-10-2010
Pukul             :  12.00 Wit  
1.    Menganjurkan pada pasien agar makan /minum makanan dan minuman dalam keadaan hangat
Hasil : pasien mengatakan akan mengikuti anjuran dari perawat
Pukul 12.13 wit
2.      Menganjurkan pada pasien agar tetap mengikuti program diet
Hasil : Pasien mengatakan tetap mengikuti program diet yang sudah di indikasikan oleh perawat
Pukul 13.00 wit
3.      Melanjutkan instruksi pemberian obat dulcolax 1 tube melalui rectal.
Hasil : obat sudah diberikan dan dalam pengawasan
Hari/Tanggal : 07-10-2010
Pukul             :  14.00 Wit  
S : Pasien Mengatakan
Sudah Bab 1 X Ada Ampas

O :
 Hipertimpani

A : Masalah belum teratasi

P : Intervensi 1,2,3 dilanjutkan
1.      Anjurkan pada pasien agar makan dan minuman dalam keadaan hangat
2.      Anjurkan pada pasien agar tetap mengikuti program diet
3.      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat sesuai indikasi








IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
Nama             : Tn.I.N
Umur             : 49 Tahun
Jenis Kelamin: Laki-laki
DX medis: DM
Ruang: Cendrawasih
No.Reg:039528

NO
IMPLEMENTASI
EVALUASI
3
Hari/Tanggal :
Pukul             :  10.00 Wit  
1.      Mengkaji ulang  KU pasien
Hasil : KU lemah

Pukul 10.10 wit
2.      Membantu pasien ke WC BAK dengan menggunakan kursi roda
Hasil : Pasien dapat BAK

Pukul 11.25 wit
3.      Menganjurkan kepada pasien untuk istirahat
Hasil : Pasien mengatakan akan beristirahat sesuai anjuran perawat

Hari/Tanggal :
Pukul             :  14.00 Wit  
S : Pasien mengatakan:
·    Masih lemas

O: KU Lemah
A: Masalah sebagian  teratasi
P : Intervensi 1,2 dilanjutkan
1.      Kaji KU pasien
2.      Bantu pasien memenuhi kebutuhan aktivitas














IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
Nama             : Tn . I. N
Umur             : 49 Tahun
Jenis Kelamin: Laki-laki
DX medis: DM
Ruang: Cendrawasih
No.Reg:039528

NO
IMPLEMENTASI
EVALUASI
1
Hari/Tanggal :
Pukul             :  09..00 Wit  
1.      Mengakaji ulang tingkat nyeri dan intensitas nyeri dengan menggunakan skala 0-10 serta dengan menginspeksi raut wajah pasien
Hasil : kualitas nyeri sedang, skala nyeri 4

Pukul              : 09.30Wit
2.      Mempertahankan teknik aseptik pada waktu perawatan luka dengan cara mencuci tangan , menggunakan handscoen
Hasil : Luka tetap steril

Pukul              : 12.30 Wit
3.      Melakukan perawatan luka  setiap pagi
Hasil : luka sudah tampak membaik .

Pukul 13.00 wit

4.      Melanjutkan therapy dokter inj Insulin 0,2 cc/ SC
Hasil : Obat sudah diberikan dan dalam pengawasan
Hari/Tanggal :
Pukul             :  14.00 Wit  
S : Pasien mengatakan:
·    Nyeri berkurang setelah luka dirawat, skala nyeri 3 (ringan)


O:
·   Luka tampak membaik


A: Masalah belum teratasi

P : Intervensi 1,2,3 dilanjutkan
1.      Kaji tingkat nyeri
2.      Pertahankan teknik septic aseptic pada saat perawatan luka
3.      Rawat luka tiap hari
4.      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapy.









IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
Nama             : Tn . I. N
Umur             : 49 Tahun
Jenis Kelamin: Laki-laki
DX medis: DM
Ruang: Cendrawasih
No.Reg:039528

NO
IMPLEMENTASI
EVALUASI
4
Hari/Tanggal : kamis, 07-10-2010
Pukul             :  09..25 Wit  
1.    Mendiskusikan  dengan pasien dan keluarga tentang rencana diet, penggunaan makanan tinggi serat dan cara untuk mengkomsumsi makanan diluar rumah, dengan menghindari makanan yang terlalu mengandung gula
Hasil : Pasien dan keluarga mengatakan akan mengontrol pola makan mereka

Pukul 11.35 wit
2.    Menjelaskan pada pasien pentingnya pemeriksaan gula darah setiap hari, dalam upaya mengontrol gula darah pasien

Hasil : Pasien bersedia untuk selalu diobservasi gula darah
Pukul 12.50 wit
3.    Menjelaskan pada pasien factor-faktor yang memegang peranan penting dalam control DM tersebut seperti latihan, stress, pola makan, pembedahan dan penyakit tertentu adalah factor yang menyebabkan timbulnya penyakit tersebut.

Hasil : pasien mengerti dengan penjelasan dari perawat
Tanggal 07-10-2010
Pukul 13. 20 Wit
S : Pasien Mengatakan Mengerti Dengan Penjelasan Perawat


O :Pasien dapat menjelaskan kembali penjelasan dari perawat

A : Masalah teratasi

P : Intervensi dihentikan