LAPORAN PENDAHULUAN
DIABETES MELITUS
I.
LANDASAN TEORI MEDIS
A.
PENGERTIAN (MEDIS)
Diabetes mellitus
adalah penyakit kronis yang kompleks yang mengakibatkan gangguan metabolisme
karbohidrat, protein, lemak dan berkembang menjadi komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler
dan neurologis. (Barbara C. Long)
Diabetes mellitus
adalah suatu penyakit kronis yang menimbulkan gangguan multi sistem dan
mempunyai karakteristik hyperglikemia yang disebabkan defisiensi insulin atau
kerja insulin yang tidak adekuat. (Brunner dan Sudart)
Diabetes mellitus
adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan
keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis
tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol (WHO).
Diabetes mellitus
adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang akibat peningkatan kadar
glukosa darah yang disebabkan oleh kekurangan insulin baik absolut maupun
relatif (Suyono, 2002).
B.
ETIOLOGI
Diabetes tipe I :
a.
Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.
b.
Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
c.
Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.
Diabetes Tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan
resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih
belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya
resistensi insulin.
Faktor-faktor resiko :
Faktor-faktor resiko :
a.
Usia (resistensi insulin cenderung meningkat
pada usia di atas 65 th)
b.
Obesitas
c.
Riwayat keluarga
Etiologi dari diabetes mellitus
tipe II sampai saat ini masih belum diketahui dengan pasti dari studi-studi
eksperimental dan klinis kita mengetahui bahwa diabetes mellitus adalah
merupakan suatu sindrom yang menyebabkan kelainan yang berbeda-beda dengan
lebih satu penyebab yang mendasarinya.
Menurut
banyak ahli beberapa faktor yang sering dianggap penyebab yaitu :
1.
Faktor
genetic
Riwayat keluarga dengan diabetes
:
Pincus dan White berpendapat
perbandingan keluarga yang menderita diabetes mellitus dengan kesehatan
keluarga sehat, ternyata angka kesakitan keluarga yang menderita diabetes
mellitus mencapai 8, 33 % dan 5, 33 % bila dibandingkan dengan keluarga sehat
yang memperlihatkan angka hanya 1, 96 %.
2.
Faktor
non genetic
a. Infeksi
Virus dianggap sebagai “trigger”
pada mereka yang sudah mempunyai predisposisi genetic terhadap diabetes
mellitus.
b. Nutrisi
1.
Obesitas
dianggap menyebabkan resistensi terhadap insulin.
2.
Malnutrisi
protein
3.
Alkohol,
dianggap menambah resiko terjadinya pankreatitis.
c. Stres
Stres berupa pembedahan, infark
miokard, luka bakar dan emosi biasanya menyebabkan hyperglikemia sementara.
d.
Hormonal
Sindrom cushing karena konsentrasi hidrokortison dalam darah tinggi, akromegali
karena jumlah somatotropin meninggi, feokromositoma karena konsentrasi glukagon
dalam darah tinggi, feokromositoma karena kadar katekolamin meningkat
C.
KLASIFIKASI
Berdasarkan klasifikasi dari WHO
(1985) dibagi beberapa type yaitu :
1.
Diabetes
mellitus type insulin, Tipe I
Insulin Dependen diabetes
mellitus (IDDM) yang dahulu dikenal dengan nama Juvenil Onset diabetes (JOD),
klien tergantung pada pemberian insulin untuk mencegah terjadinya ketoasidosis
dan mempertahankan hidup. Biasanya pada anak-anak atau usia muda dapat
disebabkan karena keturunan.
2.
Diabetes
mellitus type II,
Non Insulin Dependen
diabetes mellitus (NIDDM), yang dahulu dikenal dengan nama Maturity Onset
diabetes (MOD) terbagi dua yaitu :
a.
Non
obesitas
b.
Obesitas
Disebabkan karena
kurangnya produksi insulin dari sel beta pankreas, tetapi biasanya resistensi
aksi insulin pada jaringan perifer.
Biasanya terjadi pada orang tua
(umur lebih 40 tahun) atau anak dengan obesitas.
3.
Diabetes
mellitus type lain
a.
Diabetes
oleh beberapa sebab seperti kelainan pankreas, kelainan hormonal, diabetes
karena obat/zat kimia, kelainan reseptor insulin, kelainan genetik dan lain-lain.
b.
Obat-obat
yang dapat menyebabkan huperglikemia antara lain :
Furasemid, thyasida diuretic
glukortikoid, dilanting dan asam hidotinik
c.
diabetes
Gestasional (diabetes kehamilan) intoleransi glukosa selama kehamilan, tidak
dikelompokkan kedalam NIDDM pada pertengahan kehamilan meningkat sekresi hormon
pertumbuhan dan hormon chorionik somatomamotropin (HCS). Hormon ini meningkat
untuk mensuplai asam amino dan glukosa ke fetus.
D.
PATOFISIOLOGI
Sebagian besar
patologi diabetes mellitus dapat dikaitkan dengan satu dari tiga efek utama
kekurangan insulin sebagai berikut :
1. Pengurangan penggunaan glukosa
oleh sel-sel tubuh, dengan akibat peningkatan konsentrasi glukosa darah
setinggi 300 sampai 1200 mg/hari/100 ml.
2. Peningkatan mobilisasi lemak dari
daerah-daerah penyimpanan lemak, menyebabkan kelainan metabolisme lemak maupun
pengendapan lipid pada dinding vaskuler yang mengakibatkan aterosklerosis.
3) Pengurangan protein dalam
jaringan tubuh.
Akan tetapi selain itu
terjadi beberapa masalah patofisiologi pada diabetes mellitus yang tidak mudah
tampak yaitu kehilangan ke dalam urine klien diabetes mellitus. Bila jumlah
glukosa yang masuk tubulus ginjal dan filtrasi glomerulus meningkat kira-kira
diatas 225 mg.menit glukosa dalam jumlah bermakna mulai dibuang ke dalam urine.
Jika jumlah filtrasi glomerulus yang terbentuk tiap menit tetap, maka luapan
glukosa terjadi bila kadar glukosa meningkat melebihi 180 mg%.
Asidosis pada
diabetes, pergeseran dari metabolisme karbohidrat ke metabolisme telah
dibicarakan. Bila tubuh menggantungkan hampir semua energinya pada lemak, kadar
asam aseto – asetat dan asam Bihidroksibutirat dalam cairan tubuh dapat
meningkat dari 1 Meq/Liter sampai setinggi 10 Meq/Liter.
E.
MANIFESTASI KLINIS
Gejala yang lazim terjadi, pada
diabetes mellitus sebagai berikut :
Pada tahap awal sering ditemukan
:
a)
Poliuri
(banyak kencing)
Hal ini disebabkan
oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal
terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula banyak
menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing.
b)
Polidipsi
(banyak minum)
Hal ini disebabkan
pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri, sehingga
untuk mengimbangi klien lebih banyak minum.
c)
Polipagi
(banyak makan)
Hal ini disebabkan
karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar). Sehingga
untuk memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi walaupun klien banyak makan,
tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah.
d)
Berat
badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang.
Hal ini disebabkan
kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh berusama
mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein,
karena tubuh terus merasakan lapar, maka tubuh selanjutnya akan memecah
cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan
lemak sehingga klien dengan DM walaupun banyak makan akan tetap kurus
e)
Mata
kabur
Hal ini disebabkan oleh gangguan
lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) yang disebabkan karena insufisiensi
insulin. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa, sehingga menyebabkan
pembentukan katarak.
F.
KOMPLIKASI
1.
Akut
1.) Hypoglikemia
2.) Ketoasidosis
3.) Diabetik
2.
Kronik
1.) Makroangiopati,
mengenai pembuluh darah besar, pembuluh darah jantung pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak.
2.) Mikroangiopati mengenai
pembuluh darah kecil retinopati diabetik, nefropati diabetic.
3.) Neuropati diabetic.
G.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.
Glukosa
darah sewaktu
2.
Kadar
glukosa darah puasa
3.
Tes
toleransi glukosa
Kadar darah
sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl).
Kadar glukosa darah sewaktu
v
Plasma
vena :
<100>
100 - 200 = belum pasti DM
>200 = DM
v
Darah
kapiler :
<80>
80 - 100 = belum pasti DM
> 200 = DM
v
Kadar
glukosa darah puasa
Plasma vena :
<110>
110 - 120 = belum pasti DM
> 120 = DM
v
Darah
kapiler :
<90>
90 - 110 = belum pasti DM
>
110 = DM
Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan :
1.
Glukosa
plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
2.
Glukosa
plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
3.
Glukosa
plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr
karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl).
H.
PENATALAKSANAAN
Tujuan utama
penatalaksanaan klien dengan diabetes mellitus adalah untuk mengatur glukosa
darah dan mencegah timbulnya komplikasi acut dan kronik. Jika klien berhasil
mengatasi diabetes yang dideritanya, ia akan terhindar dari hyperglikemia atau
hypoglikemia. Penatalaksanaan diabetes tergantung pada ketepatan interaksi dari
tiga faktor aktifitas fisik, diet dan intervensi farmakologi dengan preparat
hyperglikemik oral dan insulin.
Pada penderita dengan
diabetes mellitus harus rantang gula dan makanan yang manis untuk selamanya.
Tiga hal penting yang harus diperhatikan pada penderita diabetes mellitus
adalah tiga J (jumlah, jadwal dan jenis makanan) yaitu :
J I : jumlah kalori sesuai dengan
resep dokter harus dihabiskan.
J 2 : jadwal makanan harus
diikuti sesuai dengan jam makan terdaftar.
J 3 : jenis makanan harus
diperhatikan (pantangan gula dan makanan manis).
Diet pada penderitae
diabetes mellitus dapat dibagi atas beberapa bagian antara lain:
1.
Diet
A : terdiri dari makanan yang mengandung karbohidrat 50 %, lemak 30 %, protein
20 %.
2.
Diet
B : terdiri dari karbohidrat 68 %, lemak 20 %, protein 12 %.
3.
Diet
B1 : terdiri dari karbohidrat 60 %, lemak 20 %, protein 20 %.
4.
Diet
B1 dan B2 diberikan untuk nefropati diabetik dengan gangguan faal ginjal.
Indikasi diet A :
Diberikan pada semua
penderita diabetes mellitus pada umumnya.
Indikasi diet B :
Diberikan pada
penderita diabetes terutama yang :
1.
Kurang
tahan lapan dengan dietnya.
2.
Mempunyai
hyperkolestonemia.
3.
Mempunyai
penyulit mikroangiopati misalnya pernah mengalami cerobrovaskuler acident (cva)
penyakit jantung koroner.
4.
Mempunyai
penyulit mikroangiopati misalnya terdapat retinopati diabetik tetapi belum ada
nefropati yang nyata.
5.
Telah
menderita diabetes dari 15 tahun
II.
LANDASAN TEORI KEPERAWATAN/ASUHAN KEPERAWATAN
A.
Pengkajian
1. Aktivitas
dan Istirahat
Gejala
:
·
Lemah,letih
sulit bergerak atau berjalan
·
Kram
otot, tonus otot menurun, gangguan tidur dan istirahat
Tanda
:
·
Takikardia
dan takipneu pada keadaan istirahat atau dengan aktivitas
·
Latergi
atau disorientasi, koma
Penurunan
kekuatan otot
2. Sirkulasi
Gejala
:
·
Adanya
riwayat hipertensi; IM akut
·
Klaudikasi,
kebas dan ksemutan pada ekstremitas
·
Ulkus
pada kaki, penyembuhan yang lama
Tanda
:
·
Takhikardi
·
Prubahan
tekanan Darah Postural; hipertensi
·
Nadi
yang menurun atau tak ada
·
Disritmia
·
Krekels
·
Kulit
panas, kering dan kemerahan; bola mata cekung
3. Integritas
Ego
Gejala:
·
Stres;tergantung
pada orang lain
·
Masalah
financial yang berhubungan dengan kondisi
Tanda
:
·
Ansietas;
peka rangsangan
4. Eliminasi
Gejala
:
·
Perubahan
pola berkemih (poli uria), nokturia
·
Rasa
nyeri atau terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), ISK baru/berulang
·
Nyeri
tekan abdomen
·
Diare
Tanda
:
·
Urine
encer, pucat, kuning;poliuri
·
Urine
berkabut, bau busuk
·
Abdomen
keras, adanya acites
·
Bising
usus lemah dan menurun;hiperaktif(diare)
5. Makanan
/Cairan
Gejala
:
·
Hilang
nafsu makan
·
Mual
atau muntah
·
Haus
·
Penggunaan
diuretic
Tanda
:
·
Kulit
kering/ bersisik, turgor jelek
·
Kekakuan/distensi
abdomen, muntah
·
Pembesaran
tiroid (peningkatan kebutuhan metabolic dengan peningkatan gula darah)
Bau
halitosis/manis, bau buah(nafas aseton)
6. Neurosensori
Gejala
:
·
Pusing/pening
·
Sakit
kepala
·
Kesemutan,
kebas kelemahan pada otot, parestesia
·
Gangauan
penglihatan
Tanda
:
·
Disorientasi;
mengantuk, latergi, stupor/koma(tahap lanjut). Gangguan memori; kacau mental
·
Reflex
tendon dalam(RTD) menurun (koma)
Aktivitas
kejang (tahap lanjut dari DKA)
7. Nyeri/Kenyamanan
Gejala
:
·
Abdomen
yang tegang/nyeri(sedang/berat)
Tanda
:
Wajah
meringis dengan palpitasi; tampak sangat berhati-hati
8. Pernapasan
Gejala:
·
Merasa
kekurangan oksigen,batuk dengan/ tanpa sputum purulen (tergantung adanya
infeksi atau tidak
Tanda
:
·
Lapar
udara
·
Batuk,
dengan atau tanpa sputum purylen
·
Frekuensi
perna
9. Keamanan
Gejala
:
·
Kulit
kering, gatal;ulkus kulit
Tanda
:
·
Demam,diaphoresis
·
Kulit
rusak, lesi/ulserasi
·
Menurunnya
kekuatan umum/ rentang gerak
·
Parestesia/paralisis
otot termasuk otot-otot pernafasan jika kadar kalium menurun dengan cukup
tajam)
B.
Diagnosa
dan rencana asuhan keperawatan
1.
Nyeri
(akut/kronik) b/d terputusnya kontinuitas jaringan
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1.
Kaji
skala nyeri dengan menggunakan skala (0-10)
2.
Jaga
kestenlisasian selama perawatan luka
3.
Ajarkan
teknik relaksasi
4.
Rawat
luka tiap hari
5.
Kolaborasi
dengan dokter dalam pemberian insulin
|
1.
Skala
nyeri menentukan tingkat kenyamanan serta rencana tindakan selanjutnya
2.
Teknik
septic-aseptik mencegah terjadinya infeksi yang berlanjutan
3.
Teknik
relaksasi diindikasikan untuk mengurangi rasa nyeri
4.
Mempercepat
proses penyembuhan
5.
Membantu
dalam menstabilkan gula darah pasien.
|
2.
Perubahan
volume cairan b/d dierasis osmotic, kehilangan gastric berlebihan (diare, muntah) masukan dibatasi (mual).
|
No.
|
Interveransi
|
Rasional
|
|
1
2.
3.
4.
5.
|
Dapatkan riwayat
penyakit b/d lamanya / intensitas, pengeluaran urine yang sangat berlebihan.
Pantauan TTV
Pola napas
seperti adanya pernapasan kumaul / pernapasan yang berbau katon.
Ukur BB setiap
hari
Catat hala-hal
seperti mual, nyeri, abdomen, muntah dan distensi lambung.
|
Membantu dalam
memperkirakan kekurangan volume total.
Hipovolemia dapat
dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardi
Paru-paru
mengeluarkan asam karbonat yang menghasilkan kompensasi alkalosis
respiratonk.
Memberikan hasil
pengkapan yang terbuat dari status cairan yang sedang berlangsung dan
selanjutnya dalam cairan pengganti.
Kekurangan cairan
dan elektrolit mengubah motalitas lambung yang sering kali akan menimbulkan
muntah dan secara potensial akan menimbulkan kekurangan cairan.
|
3.
Nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidak cukupan insulin, penurunan masukan
oral, status hipermetabolisme.
|
No.
|
Interverensi
|
Rasional
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Timbang BB setiap
hari
Tentukan program
diet dan pola makan pasien
Berikan makanan
cair yang mengandung zat makanan dan elektrolit dengan segera jika pasien
sudah dapat mentoleransi melalui pemberian cairan
Libatkan keluarga
pasien pada perencanaan makana ini sesuai dengan indikasi.
|
Mengkaji
pemasukan makanan yang adekuat.
Mengidentifikasi
kekurangan dan penyimpangan dari kebutuhan taraupetik.
Pemberian cairan
melalui oral lebih baik jika pasien sadar dan fungsi gastroantastinal baik
Meningkatkan rasa
ketelibatan memberikan informasi kepeda keluarga untuk memenuhi kebutuhan
nutrisi pasien.
|
4.
Kelebihan
b/d penurunan produksi energy metabolic, perubahan kimia darah, peningkatan
kebutuhan energy.
|
No.
|
Interverensi
|
Rasional
|
|
1.
2.
|
Diskusikan dengan
pasien kebutuhan akan aktivitas
Berikan aktivitas
alternative dengan periode istirahat yang cukup
Tingkat
partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan yang
dapat di toleransi
|
Pendidikan dapat
memberikan motivasi untuk meningkatkan tingkat aktivitas meskipun pasien
mungkin sangat lemah.
Mencegah
kelelahan yang berlebihan.
Meningkatkan
kepercayaan diri / harga diri yang positif sesuai tingkat aktivitas yang
dapat di toleransi pasien.
|
5.
Kurang
pengetahuan tentang penyakit b/d kurangnya informasi
|
No.
|
Interverensi
|
Rasional
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Bekerja dengan pasien
dalam menata tujuan belajar yang diharapkan
Diskusikan
tentang rencana diet, penggunaan makanan tinggi serat dan cara untuk
mengkomsumsi makanan diluar rumah.
Tekankan
pentingnya mempertahankan pemeriksaan gula darah setiap hari.
Diskusikan factor-faktor
yang memegang peranan penting dalam control DM tersebut seperti latihan,
stress, pembedahan dan penyakit tertentu.
|
Partisipasi dalam
perencanaan meningkatkan antusias dan kerja sama pasien dengan
prinsip-prinsip yang di pelajari.
Kesadaran tentang
pentingnya control diet akan membantu pasien dalam merencanakan waktu.
Membantu dalam
menciptakan gambaran nyata dari keadaan pasien untuk melakukan control
penyakit dengan lebih kuat.
Informasi ini
akan meningkatkan pengendalian terhadap DM dan dapat menurunkan berulangnya
kejadian kotoasidosis.
|

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA TN. I. N
DENGAN GANGGUAN
SISTEM ENDOKRIN “DM”
PADA RUANGAN
CENDERAWASIH DI RSUD
HAULUSSY AMBON
A.
Identitas
pasien
Nama : Tn. I.
N
Umur : 49
tahun
Jenis
kelamin :
Laki-laki
Pekerjaan : PNS
Pendidikan : SMA
Agama : Kristen Protestan
Alamat
:
Negeri Lama
Tgl
masuk RS/ jam :
06-10-2010 jam 16:00 WIT
Tgl
pengkajian :
07-10-2010 jam 08:30 WIT
DX
Medis :
Diabetes Mellitus
Nama
penanggung jawab : ny. K. N
Hubungan
dengan klien : Istri
Umur : 45
tahun
Pekerjaan : Ibu rumah
tangga
Alamat : Negeri Lama.
B.
Riwayat
kesehatan sekarang
1.
Keluhan
utama masuk RS :
Luka pada kedua tungkai
2.
Keluhan
yang menyertai :
nyeri pada daerah luka, lemas
3.
Keluhan
utama pada saat pengkajian : Nyeri
pada daerah luka
P : Kena air panas
Q :
Seperti tertusuk-tusuk
R :
Daerah luka menyebar ke lutut
S :
Sedang (4)
T :
Hilang timbul
4.
Keluhan
yang menyertai :
lemas, perut kembung, belum BAB selama 3
Hari.
Catatan Kronologis
Pada
akhir bulan September waktu pasien jalan
pagi, setelah tiba di rumah pasien merasa kram pada kedua kaki seperti terbakar
api. Pasien belum pernah meraskan hal yang sama sebelum selama ia jalan pagi ,
dengan kondisi kaki yang demikian pasien dan keluarga menganggap bahwa itu
adalah kekuatan gaib, sehingga keluarga pasien memanggil dukun kampong untuk
berobat. Namun dengan air biasa yang digunakan oleh dukun kampung ketika pasien
mencoba menaruh kedua tangan air masih dalam keadaan dingin, setelah
bergantiaan dengan air hangat yang dicelupkan kedua kaki, malah membuat kedua
kaki pasien luka. Pasien sudah mendapat pengobatan dari tim kas (mantri) selama
satu minggu, namun KU pasien makin lemas sehingga keluarga mengambil keputusan
untuk dibawa ke RSUD Haulussy Ambon, tiba di UGD pada pukul 16:00 WIT dan
mendapat therapy :
Ø
Nacl
0,9% 20 tt/m
Ø
Cefo
2 X 1 gr/IV
Ø
Metrodinasol
3 X 0,5 gr/drips
Ø
Neurosanbe
1 am
Ø
Inje
ranitidine 2 X 1 / IV
C.
Riwayat
kesehatan masa lalu
1.
Riwayat
tumbuh kembang : Normal
2.
BB
yang sesuai dengan usia : 57 kg/ 160 cm
3.
Gangguan
psikologis : Tidak
4.
Hospitalisasi : Pasien pernah
dirawat di RS 1X dengan penyakit yang
sama, pada bulan februari 2010
2. Keluarga
yang mempunyai penyakit yang sama : Nenek pasien
3.
Penyakit yang diderita keluarga :
ü
Gangguan
pertumbuhan :
Tidak ada
ü
Obesitas :
Tidak
ü
Kelainan
hiroid :
Tidak
ü
Pasien
bertanya-tanya tentang penyakitnya : Ya
4.
Latihan / olahraga
- Jenis latihan / olahraga : Jalan pagi
- Frekuensi : 3X /
minggu
- Keluhan : tidak ada
D.
Pemeriksaan
Fisik
1.
Pemeriksaan
umum
-
Kesadaran
: Compos mentis
-
KU : Lemah
-
BB
/ TB : 57 / 160
-
TD
: 150 / 90 mmHg, N : 86 x / m, S : 37 c, R : 22 x /m
2.
Wajah
-
Abnormalitas
struktur : Tidak
-
Ekspresi
wajah : Tampak Meringis
3.
Mata
-
Bola
mata : Normal
-
Kelopak
mata : Normal
-
Pupil : Normal
-
Sclera : Normal
-
Konjungtiva : Normal
-
Ketajaman
penglihatan : Normal
4.
Hidung
-
Struktur : Normal
-
Pernapasan
cuping hidung : Tadak
-
Penciuman : Baik
5.
Telinga
-
Struktur
: Norml
-
Fungsi
Pendengaran : Baik
6.
Mulut
-
Kebersihan
mulut : Bersih
-
Bau
:
Tidak
-
Fungsi
bicara : Baik
-
Menelan
: Baik
7.
Leher
-
Vena
jugularis : Tidak
ada peningkatan
-
Pembesaran
Kel tiroid : Tidak
8.
Dada
-
Bentuk
:
Simetris
-
Gerakan
Dada : Mengikuti
irama pernapasan
-
Bulu
dada/ketiak : Ada
9.
Abdomen
-
Bentuk
:
Simetris
-
Hipertimpani
: Ya
-
Kembung
: ya
10. Ektermitas
-
Ekstermitas
atas : Terpasang Nacl 12 tt/m
-
Ektermitas
bawah : Luka pada ke dua telapak kaki
-
Komentar
: Pasien
mengatakan lemas
E.
Pola
aktivitas sehari-hari
|
Pola Aktivitas
|
Sebelum sakit
|
Sesudah sakit
|
|
1. Makan
a.
Frekuensi
makan
b.
Jenis
makanan
c.
Jumlah
porsi makan
d.
Keluhan
saat makan
2. Minum
a.
Frekuensi
minum
b.
Jenis
minuman
c.
Jumlah
minum
d.
Keluhan
saat minum
3. Eliminasi
a.
BAB
-
Fekuensi
BAB
-
Konsistensi
-
Warna
-
Keluhan
saat BAB
b.
BAK
-
Frekuensi
BAK
-
Bau
-
Warna
-
Keluhan
saat BAK
4. Personal HYegine
-
Frekuensi
mandi
-
Sikat
gigi
|
3x / hr
Nasi, ikan, sayur
1 porsi
Tidak
3-4x / hr / gelas
Air putih
6-7 gls/ hr
Tidak ada
1 – 2 x / hr
Lembek
Kuning
Tidak ada
1 -2 x / hr
Pesing
Kuning
Tidak ada
3 x / hr
3 x / hr
|
3 x / hr
Bubur, sayur
1 porsi
Tidak ada
1-2 x / hr /
gelas
Air putih
1-2 gls / hr /
Tidak ada
Belum BAB selama
3 hari
1 -3 x / hr
pesing
Kuning
Tidak ada
1 x / hr
3 x / hr
|
F.
Pemeriksaan
penunjang
-
Darah
1.
Lenco : 13.200
2.
BB : 165 – 168
3.
Tromb : 175.000
4.
Bul
T/D/I : 0,4/0,2/0,2
5.
SOGT
/ PT : 16 / 19
6.
Ureum : 47
7.
Creat : 4,0
8.
Cholest : 155
9.
GDP : 361
10. HB : 12,7 gr/dl
11. USG : Acites
KLASIFIKASI DATA
DS
: Pasien mengatakan
·
Nyeri
pada daerah luka
·
Nyeri
seperti tertusuk-tusuk
·
Nyeri
menyebar sampai ke lutut
·
Skala
nyeri sedang (4)
·
Nyeri
hilang timbul
·
Perut
kembung
·
Pasien
pernah mengalami penyakit yang sama
·
Ada
keluarga yang mengalami penyakit DM
·
Belum
BAB selama 3 hari
·
Lemas
DO
:
·
KU
Lemah
·
Ekspresi
wajah tampak meringis
·
TD : 150 / 90 mmHg
·
Pasien
bertanya-tanya tentang penyakitnya
·
Hipertimpani
·
USG
hasilnya acites
·
Luka
pada kedua telapak kaki
·
Terpasang
IVFD Nacl 12 tts/m
·
Aktivitas
dibantu oleh keluarga dan perawat
·
Leuco
:13.200
·
SGOT/PT
: 16/19 ul
·
Ureum
: 47 mg/dl
·
Creat
: 4,0
·
GDP
: 361
ANALISA DATA
|
Data
|
Etiologi
|
Masalah
|
|
DS : Pasien
mengatakan
-
Nyeri
pada daerah Luka
-
Nyeri
seperti tertusuk-tusuk
-
Nyeri
menyebar samapai ke lutut
-
Skala
nyeri sedang (4)
-
Nyeri
hilang timbul
DO :
-
KU
Lemah
-
Ekspresi
wajah tampak meringis
-
Luka
pada kedua telapak kaki
-
TD
: 150/90 UL
-
Leuco
: 13.200
-
SGOT/PT
: 16/19 UL
-
Ureum
: 47 mg/dl
-
Creat
: 4,0
-
GDP
: 361
|
Luka pada kedua
kaki
|
Nyeri Akut
|
|
Data
|
Etiologi
|
Masalah
|
|
DS : Pasien
mengatakan
-
Perut
kembung
-
Belum
BAB selama 3 hari
DO :
-
KU
Lemah
-
Hipertimpani
-
Hasil
USG acites
DS : Pasien
mengatakan
-
Lemas
DO :
-
KU
Lemah
-
Terpasang
IVFD Nacl 12 H/m
-
Aktivitas
dibantu oleh perawat dan keluarga
DS : Pasien
mengatakan
-
Pernah
mengalami penyakit yang sama
-
Ada
keluarga yang mengalami penyakit DM
DO :
-
Pasien bertanya-tanya tentang penyakitnya
|
Hipoperistalik
usus
Kelemahan
Fisik
Kurang
informasi tentang penyakit
|
Gangguan
eliminasi bowel
Intoleransi
aktivitas
Kurang
pengetahuan
|
PRIORITAS MASALAH
1.
Nyeri
akut b/d Terputusnya kontinustas jaringan
2.
Gangguan
eliminasi bowel b/d hipoperistaltik usus
3.
Intoleransi
aktivitas b/d kelemahan fisik
4.
Kurang
pengetahuan tentang penyakit b/d kurang informasi tentang penyakit
|
NO
|
Diagnosa Keperawatan
|
Tujuan
|
Interverensi
|
Rasional
|
|
1.
|
Nyeri
b/d terputusnya kontinuitas jaringan
yang ditandai dengan
DS:
Pasien mengatakan
-
Nyeri
pada luka
-
Nyeri
seperti tertusuk-tusuk
-
Nyeri
menyebar sampai kelutut
-
Skala
nyeri sedang (4)
-
Nyeri
hilang timbul
DO
:
-
KU
Lemah
-
Ekspresi
wajah tampak meringis
-
Luka
pada kedua telapak kaki
-
TD
140/90 mmHg
-
N
82 x/m
-
S
37 C
-
R
22 x/m
-
Leuco
13.200
-
SGOT/PT
16/19 UL
-
Ureum
47 mg/dl
-
Creat
4,0
-
GDP
361
|
Selama dilakukan
tindakan keperawatan dalam 1 x 6 jam diharapkan nyeri dapat teratasi dengan
criteria:
1. KU baik
2. Nyeri berkurang
3. Skala nyeri 3
|
1. Kaji skala nyeri dengan
menggunakan skala (0-10)
2. Jaga kestenlisasian selama
perawatan luka
3. Ajarkan teknnik relaksasi
4. Rawat luka tiap hari
5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian
insulin
|
1. Skala nyeri menentukan tingkat
kenyamanan serta rencana tindakan selanjutnya
2. Teknik septic-aseptik mencegah
terjadinya infeksi yang berlanjutan
3. Dapat diindikasikan untuk
mengurangi nyeri
4. Mempercepat proses penyembuhan
5. Membantu dalam menstabilkan
gula darah pasien.
|
|
N
O
|
Diagnosa keperawatan
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
2.
|
Gangguan eliminasi
bowel b/d hipoperistaltik usus ditandai dengan :
DS : Pasien
mengatakan
-
Perut
kembung
-
Belum
BAB selama 3 hari
DO :
-
KU
Lemah
-
Hipertumpani
-
Hasil
USG acites
|
Selama
dilakukan tindakan keperawatan dalam 1 x 6 jam diharapkan gangguan eliminasi
bowel dapat teratasi dengan criteria :
- Perut tidak kembung
- Dapat BAB dengan normal
|
1.
Anjurkan
pada pasien agar makan dan minuman dalam keadaan hangat
2.
Anjurkan
pada pasien agar tetap mengikuti program diet
3.
Kolaborasi
dengan dokter dalam pemberian obat sesuai indikasi
|
1.
Makan/
minum yang dalam keadaan hangat dapat menstimulasi kerja usus yang lebih
aktif sehingga proses eliminasi dapat berjalan normal
2.
Diet
sesuai indikasi dapat membantu dalam proses penstabilan glukosa dalam darah
3.
Pemberian
obat sesuai indikasi dapat membantu dalam proses untuk melancarkan BAB.
|
|
No
|
Diagnosa Keperawatan
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
3.
|
Intoleransi
aktivitas b/d kelemahan fisik di tandai dengan :
DS : Pasien
mengatakan
-
Lemas
DO :
-
KU
Lemas
-
Terpasang
IVFD Nacl 12 tt/m
-
Aktivitas
dibantu oleh perawat dan keluarga
|
Selama dilakukan
tindakan keperawatan selam a 1 x 6 jam
diharapkan pasien dapat beraktivitas secara mandiri dengan criteria :
-
KU
Baik
-
Aktivitas
dilakukan secara mandiri
|
1.
Kaji
KU pasien
2.
Bantu
pasien dalam beraktivitas mis: BAB, BAK.
3.
Anjurkan
kepada pasien untuk badrest
4.
Beri
kesempatan pada pasien untuk melakukan aktivitas secara mandiri
|
1.
KU
pasien menentukan kemampuan dalam beraktivitas serta rencana tindakan
selanjutnya.
2.
Memimaksasi
penggunaan energy dalam beraktivitas
3.
Badrest
/ istirahat dapat meningkatkan energy serta mengembalikan keadaan umum pasien
4.
Kesempatan
bagi pasien dalam melatih kemampuan dalam beraktivitas
|
|
No
|
Diagnosa Keperawatan
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
4.
|
Kurang pengetahuan
b/d kurang informasi tentang penyakit, ditandai dengan.
DS : Pasien
mengatakan
-
Pernah
mengalami penyakit yang sama
-
Ada
keluarga yang mengalami penyakit DM
DO :
-
Pasien
bertanya-tanya tentang penyakitnya
|
Selama dilakukan
tindakan keperawatan selama 1x 6 jam diharapkan pasien dapat mengetahui
penyebab serta dapat mencegah timbulnya penyakit berulang
|
1.
Bekerja
dengan pasien dalam menata tujuan belajar yang diharapkan
2.
Diskusikan
tentang rencana diet, penggunaan makanan tinggi serat dan cara untuk
mengkomsumsi makanan diluar rumah.
3.
Tekankan
pentingnya mempertahankan pemeriksaan gula darah setiap hari.
4.
Diskusikan
factor-faktor yang memegang peranan penting dalam control DM tersebut seperti
latihan, stress, pembedahan dan penyakit tertentu.
|
1.
Partisipasi
dalam perencanaan meningkatkan antusias dan kerja sama pasien dengan
prinsip-prinsip yang di pelajari.
2.
Kesadaran
tentang pentingnya control diet akan membantu pasien dalam merencanakan waktu.
3.
Membantu
dalam menciptakan gambaran nyata dari keadaan pasien untuk melakukan control
penyakit dengan lebih kuat.
4.
Informasi
ini akan meningkatkan pengendalian terhadap DM dan dapat menurunkan
berulangnya kejadian kotoasidosis.
|
IMPLEMENTASI
DAN EVALUASI
|
Nama : Tn.I.N
Umur : 49 Tahun
Jenis
Kelamin:perempuan
|
DX medis: DM
Ruang:
Cendrawasih
No.Reg:039528
|
|
NO
|
IMPLEMENTASI
|
EVALUASI
|
|
2
|
Hari/Tanggal : 07-10-2010
Pukul : 12.00 Wit
1. Menganjurkan pada pasien agar makan
/minum makanan dan minuman dalam keadaan hangat
Hasil : pasien mengatakan akan
mengikuti anjuran dari perawat
Pukul
12.13 wit
2.
Menganjurkan
pada pasien agar tetap mengikuti program diet
Hasil : Pasien
mengatakan tetap mengikuti
program diet yang sudah di indikasikan oleh perawat
Pukul 13.00 wit
3.
Melanjutkan
instruksi pemberian obat dulcolax 1 tube melalui rectal.
Hasil : obat sudah diberikan dan dalam pengawasan
|
Hari/Tanggal : 07-10-2010
Pukul : 14.00 Wit
S : Pasien Mengatakan
Sudah Bab 1 X Ada Ampas
O :
Hipertimpani
A : Masalah belum
teratasi
P : Intervensi 1,2,3
dilanjutkan
1.
Anjurkan
pada pasien agar makan dan minuman dalam keadaan hangat
2.
Anjurkan
pada pasien agar tetap mengikuti program diet
3.
Kolaborasi
dengan dokter dalam pemberian obat sesuai indikasi
|
IMPLEMENTASI
DAN EVALUASI
|
Nama : Tn.I.N
Umur : 49 Tahun
Jenis Kelamin:
Laki-laki
|
DX medis: DM
Ruang:
Cendrawasih
No.Reg:039528
|
|
NO
|
IMPLEMENTASI
|
EVALUASI
|
|
3
|
Hari/Tanggal :
Pukul : 10.00 Wit
1.
Mengkaji
ulang KU pasien
Hasil : KU lemah
Pukul 10.10 wit
2.
Membantu
pasien ke WC BAK dengan menggunakan kursi roda
Hasil : Pasien
dapat BAK
Pukul 11.25 wit
3.
Menganjurkan
kepada pasien untuk istirahat
Hasil : Pasien
mengatakan akan beristirahat sesuai anjuran perawat
|
Hari/Tanggal :
Pukul : 14.00 Wit
S : Pasien
mengatakan:
· Masih lemas
O: KU Lemah
A: Masalah sebagian teratasi
P : Intervensi 1,2
dilanjutkan
1. Kaji
KU pasien
2. Bantu
pasien memenuhi kebutuhan aktivitas
|
IMPLEMENTASI
DAN EVALUASI
|
Nama : Tn . I. N
Umur : 49 Tahun
Jenis Kelamin:
Laki-laki
|
DX medis: DM
Ruang:
Cendrawasih
No.Reg:039528
|
|
NO
|
IMPLEMENTASI
|
EVALUASI
|
|
1
|
Hari/Tanggal :
Pukul :
09..00 Wit
1. Mengakaji
ulang tingkat nyeri dan intensitas nyeri dengan menggunakan skala 0-10 serta
dengan menginspeksi raut wajah pasien
Hasil :
kualitas nyeri sedang, skala nyeri 4
Pukul : 09.30Wit
2. Mempertahankan teknik aseptik pada waktu perawatan luka dengan cara mencuci tangan , menggunakan
handscoen
Hasil : Luka tetap steril
Pukul : 12.30 Wit
3.
Melakukan perawatan
luka setiap pagi
Hasil : luka sudah tampak membaik .
Pukul 13.00 wit
4.
Melanjutkan therapy dokter inj Insulin 0,2 cc/ SC
Hasil : Obat sudah diberikan
dan dalam pengawasan
|
Hari/Tanggal :
Pukul : 14.00 Wit
S : Pasien
mengatakan:
· Nyeri berkurang setelah luka dirawat,
skala nyeri 3 (ringan)
O:
· Luka tampak
membaik
A: Masalah belum
teratasi
P : Intervensi 1,2,3
dilanjutkan
1.
Kaji tingkat nyeri
2.
Pertahankan teknik septic aseptic
pada saat perawatan luka
3.
Rawat luka tiap hari
4.
Kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian therapy.
|
IMPLEMENTASI
DAN EVALUASI
|
Nama : Tn . I. N
Umur : 49 Tahun
Jenis Kelamin:
Laki-laki
|
DX medis: DM
Ruang:
Cendrawasih
No.Reg:039528
|
|
NO
|
IMPLEMENTASI
|
EVALUASI
|
|
4
|
Hari/Tanggal : kamis, 07-10-2010
Pukul : 09..25 Wit
1.
Mendiskusikan
dengan pasien dan keluarga tentang
rencana diet, penggunaan makanan tinggi serat dan cara untuk mengkomsumsi
makanan diluar rumah, dengan menghindari makanan yang terlalu mengandung gula
Hasil : Pasien
dan keluarga mengatakan akan mengontrol pola makan mereka
Pukul 11.35 wit
2.
Menjelaskan
pada pasien pentingnya pemeriksaan gula darah setiap hari, dalam upaya
mengontrol gula darah pasien
Hasil : Pasien bersedia untuk
selalu diobservasi gula darah
Pukul 12.50 wit
3.
Menjelaskan
pada pasien factor-faktor yang memegang peranan penting dalam control DM
tersebut seperti latihan, stress, pola makan, pembedahan dan penyakit
tertentu adalah factor yang menyebabkan timbulnya penyakit tersebut.
Hasil : pasien mengerti dengan penjelasan dari perawat
|
Tanggal 07-10-2010
Pukul 13. 20 Wit
S : Pasien Mengatakan
Mengerti Dengan Penjelasan Perawat
O :Pasien dapat
menjelaskan kembali penjelasan dari perawat
A : Masalah teratasi
P : Intervensi
dihentikan
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar